Senin, 09 Maret 2009

Satria Pringgondani

Satria Pringgondani putra Raden Werkudoro dan Dewi Arimbi. Mempunyai kesaktian setara dewa. Mempunyai Aji Norontoko yang mampu melebur gunung anakan, mampu terbang karena mempunyai kutang ontrokusumo dan sumping basunondo. Pernah menjadi Jago para dewa.

Lahir dari rahim Dewi Arimbi tak ada senjata yang mampu memutus tali arinya kecuali senjata kunto, sehingga warangkanya terbenam di dalam perutnya.

Gugur di padang kurusetra ketika terjadi pertumpahan darah barata antara Pendawa dan Astina melawan Basukarno dari Awonggo. Meskipun sudah tahu akan gugur tapi tetap "NETEPI DHARMANING SATRIO"

Label:

Gatutkaca Si Putra Ajaib

Gatutkaca Si Putra Ajaib

Pudjo Widijanto

Gatutkaca dalam dunia pewayangan dikenal sebagai manusia ajaib. Ia adalah putra Werkudoro, anak kedua dari lima ksatria Pandawa. Lahir dari salah satu istri Werkudoro yang bernama Arimbi, perempuan yang berwajah raksasa, namun karena kesaktiannya, penampakan sehari- hari bisa berupa wanita cantik jelita.

Keajaiban Gatutkaca sudah terlihat sejak lahir. Bukan hanya ukuran tubuh bayi yang jauh melebihi ukuran bayi umumnya. Orangtua dan sanak saudara juga direpotkan si bayi Gatutkaca ini karena tali pusarnya tak bisa diputuskan. Semua alat pemotong yang tajam, termasuk senjata kesaktian para ksatria Pandawa, tak bisa memutuskan tali pusar itu.

Dewa bertubuh tambun, pendek bernama Betara Narada turun dari khayangan memberi tahu, tali pusar itu hanya bisa diputuskan oleh senjata yang bernama Kuntojoyondanu. Untuk mendapatkan senjata itu bukan persoalan mudah karena harus melalui bertapa mencari wangsit.

Pergilah Arjuna, adik dari Werkudoro mencari senjata itu. Ternyata yang mencari senjata sakti itu tidak hanya sang Arjuna. Adipati Karna, satria dari Ngawangga, juga ingin memiliki senjata itu.

Ketika Karna dan Arjuna menemukan senjata Kunto itu, terjadilah perebutan. Arjuna lari dari peperangan ketika berhasil merebut senjata itu. Demikian juga Karna lari dari peperangan karena merasa telah merebut senjata itu.

Terkejutlah Arjuna, setelah meneliti senjata itu ternyata ia hanya mendapat rangka atau sarung saja. Sedangkan Adipati Karna yang mendapat senjatanya. Namun, atas petunjuk Betara Narada, sarung senjata itu bisa digunakan untuk memutus tali pusar si bayi. Benar, sarung senjata itu bisa memutus tali pusar si bayi, namun secara ajaib rangka itu masuk ke dalam perut Gatutkaca.

Keajaiban bayi juga terjadi ketika Werkudoro tahu ternyata bayi itu berwajah raksasa. Merasa malu, Werkudoro menghajar bayi itu. Betara Narada memberi tahu bayi itu akan berubah tampan jika dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka.

Benar, ketika bayi dimasukkan ke dalam lahar yang sangat panas itu, bukan saja wajah si bayi yang berubah tampan, tubuhnya juga membesar sebesar orang dewasa. Bayi yang oleh Narada diberi nama Raden Tetuka lantas memiliki kesaktian luar biasa. Bahkan, dalam perkembangannya, Raden Tetuka atau Gatutkaca ternyata tumbuh menjadi manusia ajaib, berotot kawat bertulang besi. Gatutkaca juga dikenal bisa terbang dengan senjata saktinya yang berupa halilintar, petir dan sejenis senjata langit lainnya. Ya Gatutkaca lahir sebagai ksatria Petir, Halilintar.

Dalang kondang Ki Joko Edan dari Semarang menyatakan, imaji moyang-moyang kita dulu sudah begitu jauh ke depan. "Gatutkaca sudah lebih dulu muncul dibanding dengan lakon-lakon film-film modern buatan luar seperti Superman, Satria Halilintar, Gundala Putra Patir, dan sebagainya."

Bangsa yang besar, cirinya memiliki pemikiran besar. Dan, aksioma manusia adalah makhluk yang harus berpikir ke depan. Meskipun berpikir tentang masa depan sifatnya banyak diwarnai faktor kebetulan, namun sebagaimana tersirat dalam tulisan Sindhunata tentang demam terhadap futurolog John Naisbitt (Kompas 1/9/1995), pemikiran tentang masa depan, ramalan tentang masa depan bukanlah sebuah isapan jempol.

Naisbitt yang meramalkan awal milenium tiga, Asia akan menemukan kebangkitannya bidang ekonomi ternyata ada gejala itu. Bukan hanya Jepang dan Korea, tetapi juga China kini cukup produktif dan kreatif dalam mencipta produk elektronik yang murah dan "laris manis" di pasaran.

Dalam format yang seirama dengan itu, moyang-moyang kita mampu menciptakan kisah fantasi Gatutkaca yang bisa memberikan pengetahuan bagi generasi sekarang. Dari kisah Gatutkaca yang hanya fantasi itu, dalam perkembangannya ternyata di era ini ada peradaban manusia di angkasa, mulai dari pesawat terbang sampai dengan Apollo yang naik ke bulan.

Sebagai kisah fantasi, kita memiliki Gatutkaca yang lahir jauh mendahului kisah fiktif Putra Petir yang dilansir dari negara asing yang kini menjamur di kalangan anak-anak. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejak nenek moyang kita adalah bangsa yang besar yang memiliki wawasan ke depan. Kalau kebesaran itu kemudian menjadi kerdil, itu terjadi karena tak pernah terasah lagi. Luluh- lantak oleh ketamakan, keegoan yang menjadikan kita tak sempat lagi berpikir ke depan, berpikir untuk generasi yang akan datang.